Anda pernah berdekatan dengan orang yang sedang merokok? Atau anda sendiri seorang perokok? Semoga saja bukan, hehehe… Lalu bagaimana perasaan antum saat berdekatan dengan mereka?!
Beberapa pekan yang lalu saya diajak oleh seorang Ikhwan pergi ke Jakarta utuk suatu keperluan. Karena ingin lebih merakyat (menyamar jadi rakyat, hahaha…) kami memutuskan untuk naik kereta kelas bisnis ajah. Jam 19.05 tepat, kami berangkat dari Stasiun Poncol, duduk menghadap ke barat. Di hadapan kami duduk dua orang bapak-bapak dua pertiga baya (Lebih dari separuh baya!).
Menit demi menit kami lalui dengan bercengkerama bersama dua orang bapak yang duduk di hadapan kami. Waktu pun berlalu…. Hingga setelah lebih dari satu jam, kami bersepakat untuk menutup mata barang sejenak karena padatnya agenda yang menunggu kami esok hari. Baru sekitar seperempat jam saya berhasil membujuk mata ini untuk menutupkan kelopaknya, lalu…. Mak wuz….. Terciumlah aroma yang sangat saya benci… aroma sedap dan mantap serta top markotop asap rokok itu mampir di hidung saya!
Terpaksa saya membatalkan rasa kantuk yang tadinya sudah menyerang dengan hebat. Mata ini pun terbuka kembali. Betapa terkejutnya saya ketika ternyata asap rokok itu berasal dari Bapak yang berada persis di hadapan saya! Ya Allah, berilah kesabaran… Wong ning ngarepku jebule Ashabul Udud… Duh, repot to iki… Di dalam hati, saya terus menggumam, dan ingin menegur orang yang berada di hadapan saya itu. Tapi mungkin karena rasa rikuh-pakewuh yang masih menempel di batin saya, niatan untuk menegur itupun saya urungkan. Saya melirik pada kawan saya, ternyata dia sudah terlelap. Yo wis, taksabar-sabarke wae lah…
Saya jadi teringat fatwa sebuah lembaga yang katanya berisi kumpulan para “Ulama”. “Merokok hukumnya haram untuk Anak-anak dan Ibu hamil.” Saya jadi terkekeh-kekeh sendiri. Cah SD wae iso nggawe fatwa koyo ngono.
Akhirnya mata ini berhasil terlelap. Sampai pada beberapa jam kemudian, (seingat saya) kereta sampai di Tegal, saya memergoki Bapak itu menyalakan korek. “Ki mesti meh nyumet rokok neh ki…” saya bergumam. Dan ternyata benar…. 100 poin untuk saya. (Wehehe…). Untuk yang kedua kalinya, paru-paru ini kemasukan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Lalu saya berdoa dalam hati, “Ya ALLAH, mugo-mugo korek’e ilang…”
Jam di tangan saya menunjukkan waktu sudah tengah malam, hampir jam 1 dini hari. Kami baru sampai di Cirebon, dan kereta berhenti cukup lama untuk transit sekitar setengah jam. Teman saya pun terbangun dan kami bercakap-cakap sebentar. Lalu, apa yang terjadi, saudara-saudara? Bola ditendang ke arah gawang,….. dan Gol….., Ngawur!
Mari kita kembali ke jalan yang benar! Ternyata sang Bapak Ashabul Udud tadi kembali menyalakan rokok untuk yang ketiga kalinya!!! Ya, Bapak itu mencetak Hatrick!!! Dalam hati saya kembali bergumam, “Lho padahal wis takdongakke korek’e ilang. Iki mesti nyilih korek’e wong liyo…”. Huh…
((Ceritanya saya percepat, langsung ke akhir cerita aja ya. Soale laporanku durung bar. Iki mumpung ono ide nulis, yo takseseli wae nggo nulis iki to. Daripada ide-ne ilang. Yo rak?))
Kemudian, sampai di Jakarta, berdasarkan perhitungan Quick Count yang saya lakukan, Bapak itu telah menghabiskan 6 batang rokok… Ya, 6 batang rokok untuk perjalanan Semarang-Jakarta. Jajal nek ditahan rak ngrokok trus duwite di-shodaqoh-ke… Lak mesti luwih becik, Pak!!! Akhirnya sebuah himbauan bagi para ashabul udud,
Peringatan Thaghut: “Merokok dapat menyebabkan Kanker, Impotensi, dan Gangguan kehamilan dan Janin.”
Peringatan Ustadz: “Merokok dapat menyebabkan masuk neraka”
Komentar
nice posting, Brother!
ehem….
silakan buka blog ane, trus KOPASUS-kopi paste tanpa kasus-tuh info kajiannya n sebarkan ke teman2 yang laen. dalam rangka dakwah!
jazakumulloh
cerita sederhana.. tp cukup menarik dr gaya penyampaian…