Oleh: Taufik Ismail

Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas
dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita

Ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kita mulai merindukannya

Kita saksikan udara
abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau
yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil
tak lagi berkicau pagi hari

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan
hutan

Kita saksikan zat asam
didesak asam arang
dan karbon dioksid itu
menggilas paru-paru

Kita saksikan
Gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air

air
mata

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?

Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu

Allah
Ampuni dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca
Seribu tanda-tanda

Karena ada sesuatu yang rasanya
mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kami
mulai
merindukannya.

1982

Dalam Doaku

Posted: 26 September 2011 in Sok Romantis dan Puitis

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

lagi-lagi ngambil dari sang penyair Sapardi Djoko Darmono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhanaSapardi Djoko Darmono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan api kepada kayu

yang menjadikannya abu…

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan

yang menjadikannya tiada…

Ini kayaknya yang ada di film KCB itu kan???
Jebulnya Bapak punya kumpulan puisi karya “Maestro” Sapardi Djoko Damono.
Mungkin dulu buat nggombalin Ibu. :D
Tapi kayaknya enggak deh… Bapakku tipe orang yang pendiam, gak romantis secara kata-kata, tapi langsung ditunjukkan lewat sikapnya kepada keluarga.
Dan ini kayaknya menurun kepada saya. :D
Sulit mengungkapkan rasa,

*Halah ndak iyo? :D

Assalamu’alaikum….

SB readers, pernahkah merasakan bingung, gundah, galau, atau apapun yang menunjukkan perasaan kita saat menghadapi kondisi dimana kita harus memilih satu di antara beberapa pilihan? Memilih satu barang di antara beberapa merk, memilih jurusan atau perguruan tinggi, memilih calon istri (Lho!), atau memilih profesi…
Semuanya itu kadang menguras perasaan dan menyita pikiran.
Bertanya ke sana ke mari, menghitung manfaat dan mudharat, berkonsultasi dengan orang tua, dan masih banyak lagi cara yang kita lakukan… Namun, pernahkah kita membiarkan Allah yang memiliihkan “Sesuatu” itu untuk kita?
Bukan berarti tidak memilih, tetapi lebih kepada memohon kepada Allah, agar Allah memantapkan salah satu dari beberapa opsi yang kita miliki… Allah sudah memberi wasilah bagi kita untuk mengadukan pilihan ini. Caranya adalah dengan Sholat istikharah! Nggak lama koq, Sob… Cuma 2 raka’at, lalu diakhiri dengan do’a. Sering mendengar, tapi tidak sering melakukannya. Padahal hidup kita penuuuuuh dengan pilihan…. Kemudian bila hati belum yakin, bisa diulangi lagi istikharah-nya, sampai hati merasa mantap dalam mengambil keputusan.
Kejujuran juga diperlukan, Sob… Misal nih, setelah hati kita merasa harus memilih “A”, tetapi nafsu kita cenderung menginginkan selain “A”, perlu kejujuran untuk mengungkapkan, yang manakah sebenarnya pilihan yang dipilihkan Allah. :)
Tentang tata cara sholat istikharah, bisa search di gugel, atau di situs-situs keilmuan islam.
Oke, Sob?! Selamat mencoba…
Wassalamu’alaikum, kerja dulu yah!!! :D

*Tulisan ini dibikin saat saya sendiri juga sedang dihadapkan pada beberapa pilihan tentang masa depan. :)

Sejenak mengenangmu.

Posted: 17 September 2011 in SerSan....
Tag:, ,

Assalamu’alaikum, SB mania,,,
Memenuhi janji untuk menceritakan sosok Mas Ibnu, berikut tulisan dari Kakak, guru, dan sahabat saya, Mas Alfian. Tulisan ini saya ambil dari note di FB beliau.

Di balik sosoknya yang pendiam dan tegas, tersimpan pribadi dengan karakter yang kuat. Karakter untuk senantiasa menjadi pembaharu dan penggerak langkah da’wah di Semarang. Meskipun usianya masih muda, dirinya banyak member kontribusi untuk kemajuan da’wah. Usulan dan idenya pun sangat inovatif dan brilian. Ia memiliki kemandirian yang tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan da’wah, bahkan sering kali dapat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan orang lain, meskipun itu bukan tugasnya. Hampir-hampir, setiap ada peluang amal shalih untuk kemaslahatan ummat, telah ia borong. Sosoknya memiliki komitmen yang kuat, sehingga dalam pekerjaan-pekerjaan da’wah, keseriusan, kesungguhan, pengorbanan, dan totalitas ia tunjukkan demi mengharap pahala dari Allah. Sungguh, kepribadian yang sangat langka dan berharga.

Begitu banyak pekerjaan-pekerjaan da’wah yang berat dan melelahkan telah menghabiskan waktunya, hingga waktu untuk keluarga pun ia korbankan. Ia sadar akan kekurangannya dalam berinteraksi dengan keluarganya, seorang istri dan seorang anak yang baru saja lahir November 2010 lalu. Akan tetapi, semua tugas da’wah ini juga ia lakukan untuk keluarga. Sebab, dengan ridha serta doa istri terhadap sibuknya pekerjaan suami di jalan da’wah, sementara istri yang berada di rumah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga pun akan mendapatkan pahala yang sama dengan suaminya.

Baca entri selengkapnya »

Ketemu Lagi….

Posted: 17 September 2011 in SerSan....
Tag:, ,

Assalamu’alaikum….
Kawan-kawan Segobadakers… Alhamdulillah, akhirnya saya ingat Username dan Password blog ini. Hihihi. Sehingga kita bisa bertemu lagi lewat blog ini. :)
Kemarin-kemarin sempat bangun lahan di blogspot, tapi juga masih belum bisa nulis. Hihihi. Ga apa2 lah ya, namanya juga baru belajar. :D

Spesialnya blog ini, karena di sini, di post-post sebelumnya, ada komentar dari Kakak, guru, sekaligus sahabat saya Mas Ibnu a.k.a Mas Wasono yang sudah dipanggil Allah, Januari lalu. Hmmm… Ya, beliau begitu spesial bagi saya. Mengapa? Insya Allah uraiannya menyusul. Hehehe. :)

Selamat datang di rumah lama! :)

Tutup Tempat Maksiat Jangan di bulan Ramadhan saja!

Bulan Ramadhan telah berlalu shalat ‘Ied pun telah usai beberapa bulan lalu. Kini kita telah berada di bulan Dzulhijjah. Kita telah melewati bulan Syawal dan Dzulqoidah, kita harus menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelum ramadhan. Karena hakikatnya, bulan ramadhan adalah sarana tarbiyah (pembinaan) bagi ruhani, serta jasmani kita.

Pembaca sekalian, jika kita flashback sebentar, tentu kita ingat kemarin ketika menjelang bulan ramadhan, banyak sekali digelar razia-razia yang dilakukan untuk memberantas kemaksiatan. Mulai dari razia minuman keras, razia mercon, sampai razia warung remang-remang yang dicurigai menjadi tempat prostitusi. Bahkan, tempat lokalisasi (baca: legalisasi Zina) juga ditutup sementara untuk menghormati datangnya bulan ramadhan. Untuk itu, kita semua patut salut atas sikap sigap para aparat dalam memberantas kemaksiatan. Namun, di samping masih banyak lagi tempat maksiat yang belum tersentuh, terutama yang kelas kakap dan mempunyai back up, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.

Pertama, betapa sayang jika kebjakan yang cukup baik seperti itu hanya dilakukan saat datangnya bulan ramadhan saja, ataupun bila dilakukan di luar bulan ramadhan, skala operasinya tidak sebesar di bulan ramadhan. Tanpa menafikan bahwa operasi seperti itu memang dibutuhkan di bulan Ramadhan, akan tetapi operasi-operasi seperti itu juga dibutuhkan di bulan-bulan lainnya.

Kedua, seolah-olah ada sebuah opini publik yang menyatakan bahwa maksiat itu terlarang hanya di bulan Ramadhan saja. Padahal yang namanya maksiat, tetap saja maksiat! Tetap terlarang dikerjakan kapanpun dan di manapun. Ironis sekali, padahal bangsa ini mengaku sebagai bangsa yang beragama dan menjadikan ketuhanan sebagai sila pertama dalam Dasar Negaranya. Apalagi, kata orang, mayoritas penduduk negeri ini mengaku beragama Islam. Maka sudah seharusnyalah kita berlaku konsisten untuk memberantas kemaksiatan, kapanpun dan di manapun.

Ketiga, selalu saja ada pihak-pihak lain yang berdalih, “Jika semua praktek maksiat ditutup selamanya, lalu bagaimana mereka (orang yang mencari nafkah dari perbuatan maksiat) akan mencari penghidupan? Siapa yang akan bertanggung jawab menyediakan pekerjaan untuk mereka?” Dalih itulah yang sering kita dengar untuk membenarkan praktek-praktek bisnis maksiat. Sungguh aneh! Meski banyak yang beranggapan bahwa zaman ini adalah zaman yang sulit, tetapi kita harus yakin bahwa sungguh masih ada jalan dan kesempatan bagi yang mau berusaha. Bukankah konon, orang bilang tanah kita tanah surga? Tongkat kayu saja konon bisa jadi tanaman! Masih banyak yang halal, mengapa mencari yang haram? Setiap makhluk yang diciptakan Allah, pasti sudah dilengkapi dengan jatah rejeki masing-masing yang sedikitpun tidak akan tertukar dengan jatah makhluk lain. Jadi, alasan mencari rejeki sebagai dalih untuk mempertahankan kemaksiatan adalah suatu dalih yang tidak shahih. Suatu kilah yang tidak sah, serta terlalu mengada-ada! Justru sebaliknya, bila bangsa ini ingin adil. makmur, sejahtera, dan sentosa maka kita tidak boleh memberikan ruang bagi kemaksiatan tinggal di negeri ini. Dalam Qur’an Surat Al A’raf ayat 96, Allah ta’ala berfirman,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”
Sebaliknya, bila kita mempertahankan kemaksiatan tetap berada di tengah-tengah negeri ini, maka sungguh azab Allah-lah yang menanti. Tidak cukupkah Allah mengingatkan kita melalui berbagai bencana yang menimpa negeri ini? Wallahu a’lam bishshowab.

TRAGIS……..

Posted: 8 November 2009 in SerSan....

Joseph Stiglitz, seorang Yahudi-Amerika, mantan kepala tim ekonom World Bank, membocorkan rahasia Bank Dunia dan IMF dalam menjerat negara2 berkembang. Modusnya, World Bank akan meminjami dana untuk pembangunan dengan imbalan 4 hal: 1.Privatisasi BUMN, 2.Pencabutan subsidi kepada Rakyat, 3.Pasar bebas, 4.Pemaksaan asas Demokrasi. Dan ia menyatakan bahwa proyek awal taktik licik ini mengalami keberhasilan di INDONESIA. (diambil dari “What I learned at The World Economic Crisis”, sebuah buku karangan Joseph Stiglitz sendiri)

Ada pula John Perkins, mantan anggota kehormatan Komunitas bankir Internasional dan juga anggota Economic Hit-Man menuturkan dalam bukunya “Confussion of Economic Hitman”, bahwa ada 4 strategi menjebak negara-negara berkembang, yaitu Jebakan hutang, akuisisi aset/sumber daya alam, pembunuhan, dan invasi militer.

Wajah-wajah datar, tak ada senyum yang mengembang., “Monggo,Pak…”, Sapa dan kalimat salam pun tak terjawab. Padahal sudah bertahun-tahun hidup dalam satu kampung! Bahkan bertetangga dekat. Aneh, Kok bisa ya?!
Fenomena lainnya terjadi pada para aktivis yang ngakunya memperjuangkan Islam yang berbeda harokah. Sangat jarang saya amati di antara yang berbeda harokah itu saling menyapa, ataupun hanya sekedar tersenyum dan mengucapkan salam. Aneh…. Tapi semoga saja saat saya tidak melihatnya, mereka berbaik-baikan. Amin!
Apakah yang tidak mau senyum itu sedang sakit gigi? Sariawan? Atau Panas Dalam? Obati dengan Adem Sari…. (Lho, malah ngiklan). Mungkin saja !!! (Iki rak maksud ndo’ake elek lho…)
Saat saya ceritakan hal ini pada kawan-kawan, bukan hanya satu atau dua orang yang mengalami hal serupa dengan saya. Mayoritas bahkan! 7 dari 9 orang pernah mengalami hal yang serupa. Bertemu dengan wajah nglangut, yang benar-benar nggak imut kayak marmut. Serta tanpa ada mimik yang simpatik.
Apa sih sulitnya senyum? Mengeluarkan biayakah? Merugikan kita kah? Takut dikira sok kenal? Sok Bersahabat? Atau apa???
Entahlah, hanya Allah-lah yang mengerti isi hati makhluk-NYA.
Anehnya lagi, ada juga yang tersenyum hanya kepada lawan jenis…. Saya pernah memergoki seorang “ikhwan” dari harokah “X” tersenyum tersipu-sipu sesaat setelah mengucapkan salam ketika berpapasan dengan seorang “akhwat” dari LDK di kampus saya. Saat saya tanyakan kepada sang “ikhwan”, ia mengemukakan alasan klasik. “Lho, ini kan untuk menjaga ukhuwah. Apa salahnya?Toh, sesame muslim kita disarankan mengucap salam saat bertemu.” Kata dia. “Oh, begitu ya?” Pertanyaannya, kenapa harus pake’ telor? Eh, keliru. Kenapa harus pake’ tersipu-sipu? Sontak dia terdiam tak bisa berkata.
Fenomena apakah ini? Nantikan kisah selanjutnya! Amati orang-orang di sekitar anda berada. Jika anda menemukan fenomena serupa, segera hubungi Ustadz terdekat!

Anda pernah berdekatan dengan orang yang sedang merokok? Atau anda sendiri seorang perokok? Semoga saja bukan, hehehe… Lalu bagaimana perasaan antum saat berdekatan dengan mereka?!
Beberapa pekan yang lalu saya diajak oleh seorang Ikhwan pergi ke Jakarta utuk suatu keperluan. Karena ingin lebih merakyat (menyamar jadi rakyat, hahaha…) kami memutuskan untuk naik kereta kelas bisnis ajah. Jam 19.05 tepat, kami berangkat dari Stasiun Poncol, duduk menghadap ke barat. Di hadapan kami duduk dua orang bapak-bapak dua pertiga baya (Lebih dari separuh baya!).
Menit demi menit kami lalui dengan bercengkerama bersama dua orang bapak yang duduk di hadapan kami. Waktu pun berlalu…. Hingga setelah lebih dari satu jam, kami bersepakat untuk menutup mata barang sejenak karena padatnya agenda yang menunggu kami esok hari. Baru sekitar seperempat jam saya berhasil membujuk mata ini untuk menutupkan kelopaknya, lalu…. Mak wuz….. Terciumlah aroma yang sangat saya benci… aroma sedap dan mantap serta top markotop asap rokok itu mampir di hidung saya!
Terpaksa saya membatalkan rasa kantuk yang tadinya sudah menyerang dengan hebat. Mata ini pun terbuka kembali. Betapa terkejutnya saya ketika ternyata asap rokok itu berasal dari Bapak yang berada persis di hadapan saya! Ya Allah, berilah kesabaran… Wong ning ngarepku jebule Ashabul Udud… Duh, repot to iki… Di dalam hati, saya terus menggumam, dan ingin menegur orang yang berada di hadapan saya itu. Tapi mungkin karena rasa rikuh-pakewuh yang masih menempel di batin saya, niatan untuk menegur itupun saya urungkan. Saya melirik pada kawan saya, ternyata dia sudah terlelap. Yo wis, taksabar-sabarke wae lah…
Saya jadi teringat fatwa sebuah lembaga yang katanya berisi kumpulan para “Ulama”. “Merokok hukumnya haram untuk Anak-anak dan Ibu hamil.” Saya jadi terkekeh-kekeh sendiri. Cah SD wae iso nggawe fatwa koyo ngono.
Akhirnya mata ini berhasil terlelap. Sampai pada beberapa jam kemudian, (seingat saya) kereta sampai di Tegal, saya memergoki Bapak itu menyalakan korek. “Ki mesti meh nyumet rokok neh ki…” saya bergumam. Dan ternyata benar…. 100 poin untuk saya. (Wehehe…). Untuk yang kedua kalinya, paru-paru ini kemasukan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Lalu saya berdoa dalam hati, “Ya ALLAH, mugo-mugo korek’e ilang…”
Jam di tangan saya menunjukkan waktu sudah tengah malam, hampir jam 1 dini hari. Kami baru sampai di Cirebon, dan kereta berhenti cukup lama untuk transit sekitar setengah jam. Teman saya pun terbangun dan kami bercakap-cakap sebentar. Lalu, apa yang terjadi, saudara-saudara? Bola ditendang ke arah gawang,….. dan Gol….., Ngawur!
Mari kita kembali ke jalan yang benar! Ternyata sang Bapak Ashabul Udud tadi kembali menyalakan rokok untuk yang ketiga kalinya!!! Ya, Bapak itu mencetak Hatrick!!! Dalam hati saya kembali bergumam, “Lho padahal wis takdongakke korek’e ilang. Iki mesti nyilih korek’e wong liyo…”. Huh…
((Ceritanya saya percepat, langsung ke akhir cerita aja ya. Soale laporanku durung bar. Iki mumpung ono ide nulis, yo takseseli wae nggo nulis iki to. Daripada ide-ne ilang. Yo rak?))
Kemudian, sampai di Jakarta, berdasarkan perhitungan Quick Count yang saya lakukan, Bapak itu telah menghabiskan 6 batang rokok… Ya, 6 batang rokok untuk perjalanan Semarang-Jakarta. Jajal nek ditahan rak ngrokok trus duwite di-shodaqoh-ke… Lak mesti luwih becik, Pak!!! Akhirnya sebuah himbauan bagi para ashabul udud,
Peringatan Thaghut: “Merokok dapat menyebabkan Kanker, Impotensi, dan Gangguan kehamilan dan Janin.”
Peringatan Ustadz: “Merokok dapat menyebabkan masuk neraka”